JAKARTA – Rumah produksi seni Regina Art mengangkat kisah perjuangan Njonja Ati Soetji atau Auw Tjoei Lan, tokoh perempuan keturunan Tionghoa asal Majalengka, Jawa Barat, yang dikenal karena kiprahnya melindungi perempuan dan anak-anak dari perdagangan manusia pada masa Hindia Belanda.
Kisah tersebut dihadirkan melalui sebuah pertunjukan teater yang mengangkat keberanian Ati Soetji dalam menyelamatkan perempuan dari eksploitasi dan jeratan prostitusi. Pementasan ini sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kembali sosok perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemanusiaan.
Rencana pementasan tersebut diperkenalkan dalam konferensi pers di The Forest at The Veranda, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pendiri Regina Art, Joane Win, memerankan tokoh Njonja Ati Soetji. Sementara itu, sejumlah seniman turut terlibat, di antaranya Maudy Koesnaedi sebagai Sayap Hitam, Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, dan Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin.
Pemeran lainnya yakni Chloe Gerry sebagai Suyun, Willem Bievers sebagai Van Walsem, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, serta Andi Solohin sebagai Jagal.
Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, menyambut positif pementasan tersebut. Menurut dia, kisah Ati Soetji merupakan bagian sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat, padahal perjuangannya memiliki nilai kemanusiaan yang kuat.
“Ini memang untold story. Sebenarnya, beliau calon pahlawan nasional. Pada 1914, beliau membuat rumah singgah untuk perlindungan dan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan. Pada zaman Hindia Belanda, banyak terjadi eksploitasi sehingga perlindungan seperti ini sangat dibutuhkan,” kata Wenny.
Wenny mengatakan, ada tiga nilai penting dari perjuangan Ati Soetji yang masih relevan hingga saat ini. Pertama, kekuatan perempuan untuk mengambil tindakan nyata dalam menyelamatkan orang lain.
Kedua, kasih sayang tidak cukup diwujudkan melalui rasa iba, tetapi harus disertai keberanian untuk melindungi, berkorban, dan mendampingi mereka hingga mampu hidup mandiri.
Ketiga, semangat perjuangan dan kepedulian sosial harus terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai kemanusiaan tetap terjaga.
Penulis naskah, Endah D. Jenura, mengatakan kisah Ati Soetji juga mengandung pesan tentang pentingnya kepedulian sosial, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan dan kehidupan lebih berkecukupan.
Menurut Endah, status sosial dan materi semestinya dapat menjadi modal untuk membantu sesama. Hal itu tercermin dari keberanian Ati Soetji yang turun langsung menyelamatkan perempuan dari perdagangan manusia, meskipun dirinya merupakan istri seorang tokoh masyarakat Tionghoa bergelar kapitan.
Pementasan ini diproduseri secara eksekutif oleh Joane Win dan disutradarai Wawan Sofwan. Naskah ditulis Endah D. Jenura dengan dukungan Yayasan Hati Suci yang diwakili Wenny.
Melalui pertunjukan tersebut, Regina Art berharap perjuangan Ati Soetji tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk memperkuat solidaritas serta meningkatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak dari berbagai bentuk eksploitasi dan perdagangan manusia.
Pementasan ini mendapat dukungan dari Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale.
(*)






















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.