Bekasi – Pemerintah Kabupaten Bekasi menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat dengan mendorong percepatan eliminasi tiga penyakit menular utama: Tuberkulosis (TBC), HIV, dan Malaria (ATM). Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pemkab Bekasi menggalang dukungan lintas sektor dalam upaya kolaboratif yang digagas Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES) Jawa Barat.
Dukungan tersebut disampaikan dalam forum strategis yang digelar di RS Mitra Keluarga Grand Wisata, Tambun Selatan, pada Kamis (19/6). Pertemuan ini bertujuan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk komitmen bersama dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Kesehatan, instansi lintas sektor, perwakilan desa, dunia usaha hingga Baznas.
“Sebagai Sekretaris dalam struktur percepatan eliminasi TBC, Bappeda memiliki peran penting dalam mengorkestrasi sinergi antar sektor. Tidak mungkin satu instansi bekerja sendiri dalam menyelesaikan persoalan sebesar ini,” ujar Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kabupaten Bekasi, Fadly Marissato.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fadly menjelaskan, isu ATM telah masuk dalam dokumen perencanaan jangka menengah daerah sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan. Ia menyoroti bahwa meskipun angka kasus malaria di Kabupaten Bekasi relatif rendah, tantangan besar justru datang dari TBC dan HIV yang masih berdampak luas pada masyarakat.
“Upaya penanganan memang sudah berjalan lama, tapi kami melihat perlunya pendekatan baru, salah satunya melalui edukasi yang lebih masif kepada remaja dan masyarakat umum sebagai langkah pencegahan,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Bappeda juga mengajak sektor swasta untuk turut serta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Selama ini, CSR banyak menyasar isu stunting dan pendidikan. Ke depan, eliminasi ATM akan dimasukkan dalam katalog CSR daerah sebagai opsi prioritas.
“Kami menyediakan menunya. Soal pelaksanaan, kami serahkan ke masing-masing perusahaan apakah ingin membantu lewat pengadaan obat, penyediaan layanan, atau bentuk kontribusi lainnya,” jelas Fadly.
Senada dengan itu, dr. Alma Lucyati selaku Program Coordinator RSSH ATM Provinsi Jawa Barat, menekankan bahwa pendekatan lintas sektor sangat krusial untuk memperkuat sistem kesehatan daerah.
“Program ini tidak hanya soal pengobatan, tapi juga memperkuat pilar penting seperti pemantauan anggaran kesehatan, penguatan laboratorium, integrasi layanan primer, hingga penelitian operasional yang relevan,” ungkap dr. Alma.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan komitmen bersama lintas sektor dalam mempercepat eliminasi ATM demi terwujudnya masyarakat Kabupaten Bekasi yang lebih sehat dan tangguh menghadapi tantangan kesehatan masa depan. (Advertorial)









