JAKARTA — Menjaga kebugaran fisik selama bulan Ramadhan tetap penting meski aktivitas makan dan minum terbatas. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, Sp.KO, menyampaikan bahwa puasa bukan alasan untuk berhenti berolahraga, asalkan dilakukan dengan penyesuaian yang tepat.
Hal tersebut disampaikan dr. Andhika dalam sesi talkshow Press Conference Hilo x Satya Wacana Salatiga yang digelar di CGV FX Sudirman Mall lantai 7, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut dr. Andhika, kebugaran tubuh justru menjadi kunci agar masyarakat tetap produktif selama menjalani ibadah puasa.
“Kalau orang berhenti total aktivitas fisik selama sebulan, pasti akan terjadi penurunan kebugaran. Padahal yang kita jaga justru adalah stamina dan kesehatan tubuh,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, terdapat beberapa waktu yang relatif aman untuk berolahraga saat puasa. Waktu pertama adalah setelah sahur, dengan catatan memilih jenis latihan yang tidak terlalu menguras keringat.
“Latihan pagi boleh, tapi jangan yang bikin dehidrasi. Pilih olahraga ringan, indoor, atau di ruangan ber-AC seperti gym ringan,” kata dr. Andhika.
Waktu kedua yang banyak dipilih masyarakat adalah menjelang berbuka puasa. Namun, ia mengingatkan agar tidak melakukan olahraga berat karena kondisi energi tubuh sudah sangat rendah.
“Di sore hari gula darah sudah habis, jadi pilih aktivitas low intensity seperti jalan santai atau jogging ringan, jangan olahraga eksplosif,” jelasnya.
Sementara itu, waktu yang dinilai paling aman adalah setelah berbuka puasa. Namun, dr. Andhika menyarankan agar tidak langsung makan besar.
“Saat berbuka, cukup konsumsi makanan ringan dulu seperti jus buah atau roti. Setelah sholat maghrib, baru bisa mulai pemanasan dan olahraga ringan sekitar 30 menit,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tren olahraga dini hari sebelum sahur yang kini mulai populer. Menurutnya, aktivitas tersebut boleh saja, tetapi harus memperhatikan faktor keamanan dan kualitas tidur.
“Kalau mau olahraga jam 2 pagi, sebaiknya indoor saja. Jangan sampai kurang tidur atau membahayakan diri,” tegasnya.
Terkait pola makan, dr. Andhika menyarankan konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi sebelum olahraga agar energi cepat tersedia.
“GI tinggi tidak masalah kalau dipakai untuk bergerak. Yang bahaya itu kalau makan tinggi gula tapi setelahnya rebahan,” katanya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa kunci utama olahraga saat puasa adalah disiplin, realistis, dan tidak memaksakan diri.
“Intinya bukan soal seberapa berat latihannya, tapi konsistensi menjaga tubuh tetap aktif dan sehat selama Ramadhan,” pungkas dr. Andhika. (*)









