Bekasi – Suasana hangat menyelimuti halaman Kantor Wali Kota Bekasi, Kamis pagi. Puluhan siswa dari SLB Patriot Kota Bekasi tampak antusias menelusuri area perkantoran, ditemani para guru dan tenaga pendidik. Kunjungan edukatif ini menjadi pengalaman langka bagi mereka — belajar langsung tentang tata kelola pemerintahan dari tempat di mana kebijakan kota dibuat.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyambut rombongan dengan senyum lebar. Ia tak sekadar menerima tamu, tapi juga memandu sendiri para siswa berkeliling area kantor. Di setiap sudut, Tri menjelaskan fungsi dan peran masing-masing bagian pemerintahan, dari ruang rapat hingga taman kota yang menjadi simbol keterbukaan publik.
“Anak-anak ini adalah pejuang kecil yang luar biasa,” ujar Tri dengan nada lembut namun tegas. “Mereka mengajarkan kita arti ketulusan dan semangat tanpa batas. Pemerintah Kota Bekasi akan terus memberi ruang agar pendidikan inklusif benar-benar dirasakan semua lapisan masyarakat.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Tri, kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ia memaknainya sebagai cerminan dari visi Bekasi sebagai kota ramah inklusi, tempat setiap warga, tanpa kecuali, mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berpartisipasi. “Kemajuan kota bukan hanya tentang infrastruktur,” katanya menambahkan, “tapi tentang bagaimana kita memanusiakan manusia.”
Dalam kesempatan itu, Tri juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah dan Yayasan Dharma Wanita atas dedikasi mereka membimbing anak-anak berkebutuhan khusus agar tumbuh mandiri dan percaya diri. “Sekolah seperti SLB Patriot memiliki peran penting dalam menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh dan berdaya saing,” ujarnya.
Kunjungan berlangsung penuh tawa dan keceriaan. Para siswa berinteraksi, bertanya, dan sesekali berfoto bersama sang Wali Kota. Di akhir kegiatan, pihak sekolah menyerahkan cendera mata sebagai kenang-kenangan — simbol kecil dari hubungan antara dunia pendidikan dan pemerintahan yang saling menguatkan.
Bagi para siswa, hari itu mungkin akan dikenang lama. Mereka tak hanya melihat gedung megah dan pejabat publik, tapi juga merasakan langsung bahwa pemerintah kota hadir untuk mereka — dengan hati. (*)









