oleh

120 Rumah di Blok Tegal Mulya Selama 3 Tahun Kesulitan Air Bersih

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Hidup bertetangga dengan perusahaan besar dan bonafide di lingkungan komplek industri tidak menjamin hidup enak dan gampang mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang berdekatan. Bahkan ada yang mengalami kekurangan air bersih.

Seperti yang dituturkan oleh Darma (50), salah seorang warga RT. 02 RW 03 Blok Tegal Mulya Desa Astana Mukti Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, yang sudah 3 tahun mengalami kekurangan air bersih di 4 sumur yang mengering.

Darma merasa heran setelah berdirinya perusahaan asal Korea, yakni PT. Charoen Pokphand yang berjarak sekitar 100 meteran dari pemukiman sumur air bersih, secara berangsur mengering dan selama 3 Tahun warga di Tegal Mulya menjadi kesulitan air bersih.

“Selama 3 tahun warga di sini kesulitan air bersih. Padahal sebelum ada perusahaan di seberang, air sumur selalu digunakan sama warga,” terangnya.

Ditambahakan salah satu tetangganya, Darum (46), sebetulnya selama 3 tahun ini ada bantuan air bersih sebanyak 2 tangki mobil dari PT. Charoen Pokphand, namun pembagiannya tidak merata dan masih jauh dari cukup.

Sedangkan menurut warga lainnya bernama Warsito (45), selama 3 tahun warga di Blok Tegal Mulya bersabar dan tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Namun setelah lama tidak bersuara, akhirnya warga mulai resah dengan kondisi sulitnya air bersih berkepanjangan.

Ditambahkan oleh seorang ibu rumah tangga, Warini (38) mengatakan, jika dirinya terkadang tidak mendapatkan air bersih diakibatkan pengambilan air berebutam, dan jumlahnya pun hanya 5000 liter. Padahal, ada 120 rumah di mana lebih dari 250 kepala keluarga yang berada di Blok Tegal Mulya.

“Sehingga saya terpaksa harus membeli air mineral 2 galon tiap hari untuk kebutuhan rumah tangganya,” tuturnya.

Ditambahkan Ibu Cas (42), bahwa 2 tahun lalu sempat diminta dokumen KTP dan KK untuk diajukan kepada pihak perusahaan dan dijanjikan akan mendapatkan uang bulanan (uang debu). Tapi sampai sekarang tidak pernah ada uang konvensasi apa pun.

Sedangkan menurut Tokoh Kecamatan Pangenan, Satori, dirinya sangat menyangkan sikap perusahaan sebesar Pokphand yang lalai akan kewajibannya terhadap lingkungan. Di mana bau dan debu yang dikirimkan melalui hembusan angin kepada warga sekitar sangat mengganggu, ditambah lagi ternyata warga pun tidak pernah diberikan uang debu sebagai konvensasi.

“Bahkan CSR pun tidak pernah sampai,” pungkasnya.

Sedangkan pada saat meminta komentar dari Humas PT. POKPHAND, Sunarjo melalui Pesan singkat hanya membalas, bahwa keluhan warga tidak bisa dijawab melalui pesan singkat dan meminta bertemu langsung.

“Maaf, Pak. Kalau saya jelaskan via WhatsApp kurang santun, mungkin bisa ketemu,” singkatnya.(Ymd/RJN)

Komentar

News Feed