Bekasi – Tokoh pemerhati anak nasional, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, dalam mengedukasi anak-anak mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak dini.
Dalam kunjungannya, Kak Seto menyampaikan bahwa inisiatif pemerintah daerah ini merupakan langkah strategis dalam membentuk karakter dan kebiasaan positif pada anak-anak.
“Saya memberikan apresiasi terhadap upaya dari pemerintah daerah, khususnya Kelurahan Bahagia, yang mengkampanyekan pola hidup bersih dan sehat pada anak-anak. Ini harus didukung oleh semua pihak, termasuk orang dewasa yang menjadi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kak Seto.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, anak-anak lebih banyak belajar melalui contoh, bukan hanya dari kata-kata. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam bentuk karya kreatif seperti lagu-lagu tentang hidup sehat, gotong royong, dan kesehatan mental agar pesan-pesan positif bisa lebih mudah diterima oleh anak-anak.
Lebih jauh, Kak Seto menilai kegiatan edukatif ini sangat efektif karena melibatkan prestasi anak-anak secara langsung, serta dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat mulai dari lurah, camat, hingga unsur TNI dan kepolisian.
“Ini pendekatan yang menyeluruh dan baik sekali, apalagi bila nilai-nilai yang disampaikan bisa diterapkan juga di lingkungan keluarga para tokoh tersebut,” tambahnya.
Dukung Pendidikan Non-Formal ala Dedi MulyadiDalam kesempatan yang sama, Kak Seto juga berbicara mengenai pertemuannya dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan pendekatan budaya dalam dunia pendidikan.
Ia menyatakan dukungannya terhadap program pendidikan karakter yang sempat viral, di mana anak-anak dibina dalam suasana disiplin namun tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan, seperti di barak pendidikan Cikole, Lembang.
“Saya sempat berdialog langsung dengan pelatih, anak-anak, dan para orang tua. Ternyata pendekatan ini sangat positif, bukan untuk menghukum, tapi melengkapi pendidikan formal dan informal dengan pendidikan non-formal,” jelas Kak Seto.
Ia bahkan mengajak publik untuk tidak menghakimi konsep pendidikan yang menggunakan pendekatan semi-militer tersebut sebelum melihat langsung.
“Marilah kita datang, berdialog, dan menyumbangkan ide. Ini bukan tentang hukuman, tapi upaya problem solving untuk anak-anak yang memerlukan pendekatan berbeda,” katanya.
Soroti Isu Pendidikan Anak Usia Dini
Menanggapi keluhan masyarakat mengenai tingginya biaya pendidikan anak usia dini dibanding pendidikan dasar yang sudah gratis, Kak Seto juga menyampaikan keprihatinannya. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak usia dini sebagai fondasi penting pembentukan karakter dan kecerdasan anak.
“Pendidikan anak usia dini itu justru krusial. Harusnya bukan yang paling mahal, tapi yang paling prioritas. Kalau perlu, diberikan subsidi yang lebih besar,” ujarnya.
Kak Seto menutup pernyataannya dengan harapan besar bagi anak-anak Indonesia, khususnya dari Kelurahan Bahagia.
“Siapa tahu, anak-anak yang hadir hari ini kelak bisa menjadi gubernur, wali kota, atau bahkan Presiden Republik Indonesia di masa depan. Mari kita bekali mereka sebaik mungkin sejak sekarang,” tutup Kak Seto.









