Kisah Pedagang Agar Keliling Yang Mengidap Penyakit Low Vision

oleh -

RakyatJabarNews.com, Cianjur – Warga Cianjur mungkin tak asing lagi dengan sosok Muhidin (42), pedagang agar-agar yang hampir setiap hari keliling di perkotaan Cianjur. Lelaki yang merupakan warga Kampung Babakan Kaler RT 02/RW 16 Kelurahan Bojongherang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur itu terus berusaha meskipun memiliki kekurangan dalam melihat.

Muhidin sudah berjualan sejak 2001 demi dapat menghidupi lima anggota keluarganya di rumah. Meskipun dirinya mengidap low vision yang membuatnya kesulitan dalam melihat, namun dia tetap semangat mencari nafkah.

Setiap hari, dirinya berangkat pagi hingga sore untuk berjualan dengan berjalan kaki, ditemani tongkat yang dipegangnya untuk memandu jalan. Satu cup agar-agar yang diberi mesyes dan susu dihargai seribu rupiah.

Dagangannya dipanggul berkeliling menuju kawasan Akademi Keperawatan (Akper) Cianjur, Bypass, dan Kampung Selakopi. Muhidin cukup bersyukur dengan penghasilan per harinya yang sebesar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

“Kalau gak gini, emak saya gak ada yang usahain buat beras, listrik, air,” tuturnya.

Ayah Muhidin yang meninggal dunia pada tahun 2008, meninggalkan ibundanya yang tak dapat bekerja dikarenakan penyakit low vision juga yang sudah sangat parah. Hal itu membuat ibundanya tak mampu keluar rumah karena sinar matahari akan membuat matanya merasakan silau yang luar biasa.

Tentunya hal tersebut membuat Muhidin semakin keras dalam bekerja. Selain itu, di rumahnya turut tinggal adik dan keponakannya.

“Kalau adik saya penyakitnya belum parah, suka ikut bantuin belanja dan masak ager,” ucapnya.

Penyakit low vision adalah kerusakan pada sistem penglihatan yang membuat penderitanya memiliki daya tajam penglihatan yang sangat rendah. Menurut Muhidin, penyakit yang dideritanya itu merupakan keturunan dari ibunya.

Selain dirinya, ibunya, dan salah satu adiknya pun mengidap penyakit low vision. Semakin bertambahnya usia, penyakitnya tersebut semakin parah, dan penglihatannya semakin kabur.

“Terakhir berobat ke Cicendo, tapi susah buat diobatin soalnya ini mah keturunan,” tambahnya.

Penyakit low vision yang dideritanya sudah cukup parah. Kesulitan dalam melihat tersebut terkadang mengundang musibah. Tak jarang dirinya tersandung hingga terjatuh, menabrak tiang, pohon, atau objek besar, hingga terperosok ke dalam kolam ikan bersama seluruh dagangannya.

“Alhamdulillah waktu itu ada yang nolong, tapi dagangan saya semuanya terbawa air. Saya pulang basah kuyup, hahaha” ujarnya yang menyelipkan tawa saat menceritakan pengalamannya tersebut.

Dengan kondisinya yang seperti itu, Muhidin sangat berharap atas kebaikan dan kejujuran warga disekitarnya maupun pembeli.

“Kalau nyebrang sendiri saya pakai tongkat, kadang ditolongin nyebrang,” ucapnya. (red/RJN)

Berita Rekomendasi

Comment