Jakarta – Adira Finance tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnis pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis. Momentum Ramadan 2026 dinilai menjadi salah satu pendorong utama, khususnya pada segmen pembiayaan multiguna dan non-otomotif.
Head of Regional SSD Jabodetabek 2 Adira Finance, Nanang Kurniawan, mengatakan bahwa meskipun kondisi ekonomi nasional masih belum sepenuhnya stabil, tren pembiayaan tahun ini diperkirakan tetap positif.
“Memang kondisi ekonomi saat ini masih cukup unpredictable, namun kami melihat peluang pertumbuhan tetap ada. Untuk roda dua masih tumbuh stabil, roda empat sekitar 3 persen, dan pembiayaan multiguna kami targetkan bisa tumbuh hingga 20 persen,” ujar Nanang saat Media Gathering Adira Expo Berkah Ramadan di Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nanang menjelaskan, pada momen Ramadan hingga Lebaran, permintaan pembiayaan multiguna biasanya mengalami peningkatan, baik dari nasabah eksisting maupun nasabah baru non-debitur.
“Trennya setiap Ramadan memang naik. Kami berharap Februari sampai Maret ini pertumbuhan multiguna bisa mencapai double digit. Bahkan tahun ini kami menargetkan porsi nasabah non-debt bisa naik di atas 20 persen,” jelasnya.
Segmen non-debt atau nasabah baru menjadi salah satu fokus Adira Finance untuk memperluas pasar, terutama di luar pembiayaan kendaraan bermotor.
“Selama ini nasabah kami banyak dari debitur lama. Sekarang kami ingin memperluas ke non-debt dengan menawarkan berbagai kemudahan proses, program benefit, serta layanan digital,” tambahnya.
Nanang juga menegaskan bahwa kekuatan Adira Finance tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga dari ekosistem grup MUFG yang mencakup Bank Danamon, Home Credit, hingga Zurich.
“Sinergi ini menjadi nilai tambah bagi nasabah. Kami bisa melakukan bridging layanan ke berbagai kebutuhan finansial mereka,” katanya.
Kontribusi Banten Capai 8 Persen
Dari sisi wilayah, Banten masih menjadi salah satu daerah dengan potensi besar. Kontribusi bisnis Adira Finance di Banten terhadap Jabodetabek mencapai sekitar 8 persen.
“Potensinya bagus, walaupun dari sisi risiko ada perhatian khusus. Tapi masih sangat manageable karena kami bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk keamanan dan komunitas lokal,” ujarnya.
NPF Tetap Dijaga di Bawah 2 Persen
Terkait kualitas pembiayaan, Nanang menyebut bahwa Adira Finance terus menjaga rasio Non Performing Financing (NPF) agar tetap terkendali.
“Secara historis, setelah Lebaran memang selalu ada koreksi. Tapi kami antisipasi dengan edukasi ke nasabah dan penguatan proses risk management. Target kami tetap menjaga NPF di bawah 2 persen,” tegasnya.
Ia menambahkan, edukasi kepada nasabah menjadi kunci agar masyarakat tidak mengambil pembiayaan tanpa perencanaan keuangan yang matang.
“Sekarang semua data sudah terintegrasi dengan NIK. Jadi kami selalu mengingatkan nasabah agar tidak sembarangan mengambil kredit tanpa mempertimbangkan kemampuan bayar,” tutup Nanang. (*)









