JAKARTA – Piala Dunia 2026 tak hanya menyajikan pertandingan seru, tetapi juga mengubah kebiasaan banyak warga Jakarta. Demi menyaksikan tim favorit berlaga pada dini hari, banyak orang rela mengurangi waktu tidur.
Salah satunya Permana (30), seorang karyawan swasta di kawasan Senayan. Selama Piala Dunia berlangsung, ia sengaja memasang alarm pada dini hari atau memilih begadang agar tidak melewatkan pertandingan.
“Biasanya saya tidur sekitar jam 9 atau 10 malam. Sekarang rela bangun dini hari atau begadang demi menonton pertandingan. Memang mengantuk, tapi begitu laga dimulai rasa kantuk langsung hilang,” katanya.
Perubahan kebiasaan ini juga terasa di lingkungan kerja. Obrolan di kantor yang biasanya seputar pekerjaan kini berganti menjadi pembahasan hasil pertandingan, gol-gol terbaik, hingga prediksi laga berikutnya.
Hal itu juga dirasakan Febriyan (33), karyawan di kawasan Senayan. Menurutnya, Piala Dunia membuat suasana kantor menjadi lebih akrab.
“Sekarang setiap pagi yang dibahas bukan lagi pekerjaan, tapi pertandingan semalam. Jadi lebih seru karena teman-teman dari berbagai divisi ikut ngobrol dan bercanda,” ujarnya.
Demam Piala Dunia juga terlihat di berbagai tempat. Nonton bareng (nobar) kembali menjadi aktivitas favorit masyarakat. Teras rumah, pos ronda, hingga kedai kopi dipenuhi warga yang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan bersama.
Meski harus rela mengurangi waktu istirahat, banyak orang merasa momen ini sangat berharga. Bagi mereka, Piala Dunia bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga menjadi ajang mempererat kebersamaan dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.
Selama sebulan terakhir, jutaan masyarakat Indonesia menikmati euforia Piala Dunia melalui siaran TVRI yang menayangkan seluruh pertandingan. Turnamen empat tahunan itu pun menghadirkan rutinitas baru yang penuh semangat dan kebersamaan.
(*)









