oleh

Kang Maman Serukan Metode Dakwah Moderat Harus Lebih Inovatif

RJN, Cirebon – Metode dakwah yang dikembangan Nahdlatul Ulama (NU) sudah saatnya menjurus pada pengendalian masa depan yang ditandai kecepatan, kompleksitas, risiko, perubahan, dan kejutan.

Metode dakwah NU yang dijiwai tiga nilai utamanya kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme akan tetap berdiri kokoh sebagai organisasi dakwah Islam moderat. Demikian disampaikan Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan KH. Maman Imanulhaq.

Menurut Kang Maman, untuk mengendalikan masa depan, para juru dakwah NU harus memperhatikan empat nilai yakni antisipasi, adaptasi, evolusi, dan inovasi. “Selama ini, para pendakwah NU cenderung mengusung bersikap antisipasipatif, mengabaikan tiga nilai lainya yakni adaptasi, evolusi dan inovasi,” katanya, pada Sabtu (21/9/2019).

Kelompok lain yang anti kebhinekaan, Pancasila, dan NKRI justru lebih kreatif dan inovatif dalam menguasai kanal media digital seperti YouTube, Twitter, Facebook. “Kelompok moderat kurang militan dan cenderung tidak mau berinovasi,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, juru dakwah NU, baik Dai (Laki-laki) atau Daiyah (Perempuan) harus menguasai Kitab Kuning, Kitab Putih dan Kitab Abu-abu. Mereka memiliki kemampuan dan wawasan keilmuan agama yang luas, mampu menganalisa realitas masyarakat dan harus masuk ke dalam bagian persoalan yang dihadapi masyarakat.

Mereka juga perlu membangun model strategi yang cocok diterapkan di masyarakat sesuai dengan zamannya. “Para Dai harus memahami ruang dan Waktu, mengenali aktor dan agen budaya modern dan membangun jaringan yang luas dan plural,” ujarnya.

Sementara, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian – Maritim Kominfo RI, Septriana Tangkary mengatakan, komitmen NU sangat tampak terkait dengan penguatan pemahaman keagamaan untuk umat muslim di Indonesia.

Menurutnya, seiring dengan perkembangan zaman tantangan yang dihadapi oleh masyarakat juga berbeda sehingga membutuhkan model pendekatan baru. “Jumlah penduduk kita 268,2 juta. Sementara pengguna internet kita 150 juta orang. Jadi sangat besar potensinya dalam mengembangkan berbagai hal termasuk dakwah dan usaha,” ungkapnya. 

(gie/rjn)

Komentar

News Feed