Pilkada 2018 Memanas, H. Acep Purnama dari PDIP Cenderung Berkoalisi

by Juli 7, 2017
Kuningan Politik 0   98 views 0
Advertisement

RakyatJabarNews.com, Kuningan – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seretak 2018 masih jauh di mata, akan tetapi suasana membidik sudah mulai memanas saat ini. Terlebih melihat sosok Petahana H. Acep Purnama dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang cenderung berkoalisi, maka banyak pihak sedang menantikan keputusan tersebut.

Seperti dikabarkan beberapa pekan lalu, bahwa rekomendasi dari PDIP akan keluar pada Bulan Agustus dan pernyataan dari Prof. Rokhmin Dahuri pengurus DPP PDIP saat berkunjung ke Kuningan bahwa DPP PDIP tidak mau takabur. Jika memang ada partai lain yang sejalan dengan senang hati bisa bermitra, tentunya tergantung pada penilaian polularitas maupun elektabilitas dari calon di internal partai. Maka kedua hal itu bisa hampir dipastikan bahwa PDIP akan berkoalisi.

Dari beberapa kandidat di luar PDIP, banyak sosok yang muncul seperti Dudi Pamuji dari Partai Golkar, H.T. Mamat Robby Suganda dari Partai Demokrat, Yosa Oktora Santono dari Demokrat, kemudian dari Partai Gerindra ada H. Dede Ismail, Dani Iskandar, dr. Toto Taufikurohman Kosim, lalu dari PKS ada Agus Budiman, dari PAN ada H. Udin Kusnaedi dan sejumlah tokoh lainnya seperti H. Yusron Kholid bahkan H. Kamdan mantan Bacabup 2013.

Sedangkan di internal PDIP ada tiga nama lainnya yang populer, yaitu Rana Suparman yang menjabat sebagai Ketua DPRD Kuningan saat ini, kemudian Dede Sembada yang menjabat sebagai Wakil Bupati Kuningan saat ini, dan Muhammad Ridho Suganda putra bungsu Alhamarhumah Bupati terdahulu Hj. Utje Ch Suganda.

Namun, karena merasa PDIP akan berkoalisi, ada dua nama dari internal PDIP yang sempat mendaftarkan diri akan beralih untuk melawan sosok petahana.

Jika benar, maka skenario untuk mempertemukan lawan head to head terjadi, sosok Petahana sendiri akan melawan seorang yang pernah mendaftar dalam tubuh PDIP namun menggunakan kendaraan lain.

“Prediksi head to head pada Pilkada serentak nanti bisa terjadi jika memang ada sosok yang berambisi merebut kekuasaan lagi, mengingat peluang satu paket PDIP untuk menang sangat tipis,” kata Pengamat Muda Kuningan, Iman Sudirman, Kamis (6/7).

Advertisement

Dari beberapa calon yang tampil saat ini, menurut Iman, belum ada yang masuk di hati masyarakat. Sehingga Kabupaten Kuningan sendiri miskin kader, bahkan miskin sosok pemimpin yang didambakan.

Dijelaskannya, seperti sosok dari Partai Golkar, partainya memang telah mengakar, akan tetapi sosok yang ditampilkan tidak menarik, kemudian dari PAN sendiri juga menampilkan figur baru, begitu pula dengan partai lainnya cenderung muncul figur baru.

“Kuningan itu, cenderung tradisional, maka untuk figur–figur baru maupun muda masih jauh dari harapan. Kecuali figur yang pernah tampil dan bertarung habis–habisan pada Pilkada kemarin seperti Momon Rohmana, Mamat Robby, maupun H. Kamdan. Dan sosok Pak Acep sendiri juga sosok kawakan,” kata Iman.

Sosok Acep yang sudah di atas angin mendapat rekomendasi, lanjut Iman, akan menjadi rebutan semua bakal calon dari partai manapun, akan tetapi jika salah memilih akan terperosok dengan skenario adu banteng.

“Prediksi saya, Pak Acep berpasangan dengan siapapun akan tetap head to head, namun akan lebih ringan jika berpasangan dengan sosok kawakan yang sudah popular di masyarakat, seperti Pak Mamat Robby atau lainnya,” ujar Iman.

Ditanya siapa yang paling berpeluang menjadi lawan berat sosok Petahana, Iman menjawab sosok Petahana lagi. Dalam hal ini tentunya wakil bupati saat ini yang sangat berpeluang dipinang dari partai lain untuk maju dalam Pilkada nanti mengingat proses penyaringan DPD PDIP tidak mengikuti.

“Ya sosok Petahana lagi yang menjadi lawan berat Pak Acep. Tapi jika benar Pak Wabup tidak akan maju dan menjadi negarawan menyelesaikan tugasnya maka sosok Pak Acep dipastikan tidak ada lawan,” jelas Iman.

Bagi Iman, Pilkada adalah kemenangan rakyat, bukanlah kemenangan kelompok, maka dari itu meski ada koalisi dan lain sebagainya, tetap saja keputusan ada di tangan rakyat, sebab rakyat yang memilih bukan partai yang memilih.

“Hasil Pilkada itu adalah kemenangan rakyat, bukan kemenangan kelompok atau partai. Biarlah rakyat yang memilih, siapa yang terpilih tentunya sudah merakyat,” tandas Iman. (Dee/RJN)

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *