Menelusuri Jejak Pangeran Walangsungsang di Gunung Cangak

by Agustus 15, 2017
Cirebon 0   178 views 0
Advertisement

RakyatJabarNews.com, Cirebon – Menelusuri jejak Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Cirebon) ternyata bukan hanya di Gunung Jati saja. Selama ini, Kecamatan Gunung Jati menjadi salah satu tempat syiar Mbah Kuwu Cirebon dalam menyebarkan agama Islam.

Namun, siapa nyana, sebelum datang ke wilayah yang saat ini menjadi terkenal dengan daerah Gunung Jati, ada satu tempat yang pernah menjadi tempat ‘berguru’ Sang Pangeran, yaitu Gunung Cangak di Desa Krandon, Kecamatan Talun.

Mbah Kuwu Cirebon sendiri merupakan anak dari Raja Pasundan, Prabu Siliwangi, paman dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, karena ibu dari Sunan Gunung Jati yaitu Nyi Mas Rara Santang adalah adik dari Mbah Kuwu Cirebon.

Gunung Cangak berlokasi di belakang sebuah lokasi cagar budaya Balong Biru. Balong Biru ini biasa dijadikan tempat pemandian.

Keheningan serta rasa sejuk langsung terasa menggigit karena pada Minggu pagi, hampir tidak ada pengunjung. Hanya ada beberapa anak kecil yang merupakan warga sekitar tengah bermain persis di pinggir balong.

“Mbah Kuwu Cirebon pernah ke sini dan beliau berguru kepada Pangeran Sangiang Bango selama sebulan. Kemudian setelah berguru selama sebulan, beliau mendapatkan petunjuk ke Gunung Jati yang akhirnya menyiarkan agama Islam di sana.

Mbah Kuwu Cirebon juga sering mandi di Balong Biru,” kata Darson, juru kunci Balong Biru yang sekaligus ditunjuk sebagai pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang untuk menjaga Balong Biru.

Balong Biru menyuguhkan pemandangan alam yang eksotis. Airnya tenang dan tidak dalam, sebab hanya sedada orang dewasa. Airnya yang cukup jernih dan segar membuat setiap orang ingin berenang di dalamnya.

Advertisement

Yang unik, balong ini berbentuk lafadz Allah jika dilihat dari arah selatan balong, dan berbentuk seperti tokoh pewayangan Semar kalau dilihat dari utara.

“Batu-batunya sebagian besar masih asli, ada semacam pintu masuk yang berundak menuju balong ini,” kata Darson.

Yang membuat balong ini sejuk adalah pohon-pohon usia ratusan tahun yang tumbuh persis di pinggir balon tersebut. Ada manggis yang sedang berbuah, pohon andul yang batangnya menjorok ke arah balong, juga mangga kweni.

Buah dari pohon andul biasanya banyak yang mengambil untuk dijadikan obat campuran penghalau nyamuk.

Menurut Darson, beberapa tahun lalu bahkan Balong Biru lebih sejuk lagi karena pohon berusia ratusan tahun masih banyak. Namun satu persatu pohon ini tumbang karena usia.

“Saking rapatnya pohon usia ratusan tahun, cahaya matahari memantulkan sinarnya ke arah balong seadanya karena hanya mampu menyinari dari celah-celah pohon. Hal ini membuat pencahayaan di Balong Biru dramatis, dan membuat balong airnya memantulkan air seperti warna biru,” tukasnya.

Balong Biru sendiri diapit oleh dua buah kolam yang ukurannya lebih kecil. Airnya jernih, seakan kita bisa melihat binatang sekecil apapun di dalamnya.

Lalu di komplek Balong Biru ada juga tiga buah sumur, masing-masing diberi nama Gua Garbah, Sumur Rezeki, dan Sumur Tetes.

Jika ada pengunjung, menurut Darson, dirinya tidak akan menolak jika ada yang meminta airnya untuk dibawa pulang.

“Kalau air dari tiga sumur ini dikatakan bisa mengobati penyakit, semuanya atas izin Allah,” katanya. (RJN)

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *