Guru Besar ITB: Kota Bandung, Belum Layak di Sebut Smart City

by September 28, 2017
Aspirasi Bandung Pemerintahan 0   115 views 0
Advertisement

RakyatJabarNews.com, Bandung – Guru Besar ITB, Profesor Suhono Harso Supangkat mengaku sedang melakukan penilaian terhadap kota di seluruh Indonesia terkait konsep Smart City yang mereka terapkan. Salah satunya di Kota Bandung.

Guru Besar di bidang Teknologi Informasi tersebut menuturkan, Smart City bukan sebuah konsep yang diklaim oleh sebuah kota. Namun, konsep Smart City meski diukur dengan baik yang ujung-ujungnya adalah dampak terhadap peningkata kualitas hidup di kota yang bersangkutan.

“Teknologi dan aplikasi itu hanya salah satu komponen, bukan suatu tujuan. (Kota) Bandung memang giat di pengembangan aplikasi, namun warga dan tata kelolanya, menurut saya, masih perlu dibangun sehingga menyentuh terhadap perubahan yang diinginkan,” ujar Suhono saat dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp, Rabu (27/9/2017).

Saat ini, lanjut Suhono, Kota Bandung masih dalam tahap menuju Smart City. Partisipasi warga yang terintegrasi dengan sektor-sektor dinilai Suhono masih perlu terus diukembangkan. Selain itu, sektor teknologi informasi dan komunikasi pun masih tetap perlu dikembangkan secara terintegrasi, baik di sisi infrastruktur hingga aplikasi.

“Jadi handicap integrasi dengan warga, antar sektor dan warga dengan sektor-sektor masih perlu dikembangkan di Kota Bandung,” tambahnya.

Untuk penerapan Smart City di sebuah kota, tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang singkat. Pasalnya, Smart City bukan hanya masalah aplikasi dan teknologi tetapi perubahan budaya dan perilaku semua komponen di kota tersebut.

“Di kota-kota maju dunia, Smart City itu dirancang lebih dari 5 tahun, bahkan ada yang 10 hingga 20 tahun. Dan di Indonesia kota berbasis pemerintahan masih belum ada menurut ukuran kami. Kalau kota swasta, mungkin sudah dekat,” terangnya.

Advertisement

Untuk mengukur pencapaian Smart City, lanjut Suhono, setidaknya terdapat dua indikator utama. Yakni indikator kualitas hidup dan indikator tingkat kematangan pengembangan Smart City.

Indikator kualitas hidup dapat mengukur hasil akhir dari berbagai upaya yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup itu sendiri. Sedangkan indikator tingkat kematangan pengembangan Smart City bisa mengukur sejauh mana tingkat kematangan kita secara efektif, efisien, terintegrasi, berkelanjutan dan terukur untuk menghasilkan layanan kepada warganya.

“Komponen-komponen kota dapat dijadikan titik acuan dalam mengukur pencapaian Smart City. Dari aspek sumber daya dan enabler, dapat ditelusuri berapa banyak potensi sumber daya kota yang sudah dimanfaatkan dan apakah enabler telah menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Dari aspek pengembangan dan pengelolaan, dapat dievaluasi bagaimana pemerintah kota mengelola semua potensi kota dan manajemen potensi tersebut untuk menciptakan layanan yang berkualitas. Dan dari aspek layanan kota, dapat dilihat layanan apa saja yang sudah diberikan pemerintah kota untuk meningkatkan kualitas hidup warganya,” paparnya.

“Pada akhirnya, konsep Smart City mengajarkan kepada kita jika setiap orang memiliki perannya masing-masing untuk mengusahakan kepentingan komunal. Sebuah kemajuan yang signifikan tidak akan tercapai selama pihak-pihak terkait masih saling menyalahkan, tapi kemajuan akan terwujud apabila pihak-pihak terkait saling bersinergi dan bahu-membahu mengupayakan pelayanan yang terbaik,” pungkasnya.(asp/RJN)

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *